Feeds:
Posts
Comments

Sahur, saatnya #sawityowit

Bagi anda yang ingin mendapat acara alternatif, hiburan segar di saat sahur, ada baiknya mengunjungi twitter. Ada acara #sawityowit, forum diskusi bikinan Dagienkz, Desta, dan Vincent. Sawityowit adalah singkatan dari Sahur with your twitter. Bukan sekedar forum diskusi, tetapi #sawityowit jadi ajang word games, adu joke, tebakan. Kalau mau lihat preview-nya #sawityowit, berikut

Pagi ini #sawityowit menempati urutan 4 trending topics di twitter. Dahsyat Man! Bule-bule di twitter pun heran.

Blue Ocean Strategy

Sepertinya, ulah Dagienkz, Desta, dan Vincent untuk membuat acara di twitter ini merupakan cerminan blue ocean strategy. Gagasan Cerdas! Keluar dari pertarungan samudra merah hiburan sahur di media TV (entah disengaja atau memang mereka sedang ga laku), masuk ke social networking. Dan hasilnya? Membanggakan. Pesan saya, segera patenkan, hati-hati nanti ada yang klaim.

Waktu kumpul dengan alumni SMA, ada tebakan/guyonan spontan yang terlontar dari seorang alumni 1970an. Tebakannya begini “apa bedanya anak muda dan orang tua?” salah satu jawabannya, katanya adalah “Kalau anak muda, suka ga peduli kesehatan demi uang. Kalau orang tua-tua seperti saya ini sudah ga peduli uang, demi kesehatan.”

Hmm…..

Kalau dipikir-pikir ungkapan tersebut bukan sekedar guyonan spontan. Mungkin itulah potret perilaku bekerja di sekeliling kita. Yang muda semangat ngantor cari uang sampai larut malam, lupa makan, lupa olahraga, ga sempat istirahat. Ketika sudah tua, kaya raya, punya duit, eh malah penyakit berdatangan. Alhasil, uang yang terkumpul habis untuk berobat macam-macam.

Untungnya, atas perilaku bekerja yang seperti itu kini muncul pemikiran perilaku bekerja yang berimbang atau biasa disebut worklife balance.  Ada banyak versi pengertiannya, namun intinya adalah menjalankan pekerjaan dengan tetap menjaga keseimbangan hidup.

Ada yang menyebut, worklife balance itu bisa diistilahkan secara singkat berupa S-P-I-C-E-S, yaitu:

  • “Social” : kehidupan keluarga, hubungan dengan orang lain, lingkungan, alam dan masyarakat
  • “Physical”: kebugaran , gizi, kesehatan, dan santai
  • ”Intelectual”: penguasaan stres dan tekanan,pengembangan diri & profesional, proses belajar
  • “Career”: suskes bekerja, berkarir dan kesejahteraan finansial,
  • ”Emotional “: “sense of humour”, kreativitas, bermain, dan “self esteem”,
  • Spiritual”, ke Tuhan-an, intuisi, arti dan tujuan hidup.

Sekilas memang nampak indah, bahwa kita harus menjaga bandul keseimbangan berada di tengah. Namun apakah kenyataannya demikian? Melihat tantangan daya saing, ketatnya pasar, kondisi ekonomi dunia, tuntutan produktifitas dan efisiensi, maka peluang worklife balance akan semakin berat. Yang jelas, bos akan gatel mendelegasikan pekerjaan begitu kita terlihat sedikit santai. hehehe..

Apapun itu, muculnya pemikiran worklife balance meski tidak ideal mampu menjadi pendorong semangat agar kita bekerja secara efektif. Tidak perlu bekerja sampai dini hari kalau pekerjaan bisa dikerjakan esok hari. Tidak perlu lembur kalau pekerjaan bisa diselesaikan lebih cepat. Dan tak kalah penting, lakukan delegasi pekerjaan kepada staf.

Musim kampanye telah berlalu. Pemenangnya, seperti yang kita tahu adalah Pak Beye-pemilik tagline “LANJUTKAN!”. Ada yang unik, dimana ternyata masyarakat kita masih mengharapkan kelanjutan dari pemerintahan dan tidak tergoda dengan janji perubahan. Padahal kalau kita membaca literatur manajemen perubahan, maka kisah yang diangkat biasanya pemenang yang datang dari pihak yang menawarkan perubahan. Coba lihat kasus Bill Clinton, Obama, dan sebagainya.

Nah, sekarang tinggal menunggu tanggal pergantian pemerintahan. Mari kita tunggu janji2 kampanye LANJUTKAN dan selalu menagih dengan tagline BUKTIKAN! Ya. BUKTIKAN!

Nice Post. Thanks

Saya suka sekali dengan post ini (Congrats Cocobi!). Ditulis skitar 3 tahun lalu, oleh teman baik yang bernama mirip dengan saya yaitu Si Agung Rizky Panditanegara Prawirodirjo Mangkunegoro (yang belakang bercetak miring bukan nama akte hehe).  Kalau ga salah dia menulis blog post gara-gara ga bisa hadir menjadi supporter di ujian pendadaran gara-gara ke Jerman (Jerman beneran, bukan JEjeRe kauMAN).

Hari ini melalui blogwalking saya menemukan artikelnyanya dan membacanya sekali lagi.  Masih tersenyum-senyum sendiri, teringat-ingat masa lalu ketika kuliah, berkumpul dengan kolega-kolega kampus dengan wajah ceria seolah tak ada beban di esok hari.

Kali ini saya ingin angkat topi lagi buat Agung, penulis post. This is best post about me, ever Gung. Semoga postingan ini tidak menjadikanku sombong. Sebaliknya, bisa senantiasa mengingatkanku agar bisa menjadi manusia yang lebih baik.

Kalo penasaran dengan isi postingannya, ini saya copas di sini yah.

Congratz Cocobi!

Hari ini Cocobi lulus.

Berhubung tadi aku berhalangan hadir di pendadarannya, aku tulis aja deh, sebuah testimoni buat dia.

Cocobi, Bowie, Triagung Wibawa, adalah teman kuliahku di Fakultas Ekonomi UGM (halahh..).

This guy is really cool.

Aku suka sama keseriusan dia dalam mengejar impiannya. Ambisinya. Cara dia menggapainya. Silent but sure (and deadly.. hehehe). Pekerjaan sesulit apapun, pasti bisa dia selesaikan, tanpa mengeluh. He loves what he does, and he does what he loves. Soal manajemen waktu, dia bisa diandalkan. Aku masih perlu belajar banyak hal darinya.

Mungkin sesekali dia agak ceroboh. Aku masih inget waktu dia ngga ikut ujian karena ketiduran.. Atau coba lihat bagaimana dia selalu terbantai kalo main kartu.. Hahaha. It´s so human anyway. Manusiawi (he´s a human, isn´t he? or maybe he´s not? Hahaha). Bukan Cocobi namanya kalo ngga bisa bangkit kembali dan memperbaiki kesalahan.

Tapi yang paling aku suka darinya adalah kesederhanaan sikap dan perilakunya. Sangat njawani. Dibalik segala kesederhanaan itu tersimpan kepribadian yang luar biasa. Salut sama kamu, Bow.

Selamat ya Bow,
aku yakin bahwa kelak kamu akan mencapai sesuatu yang besar.
So, what is your next plan?

Makan-makannya tunggu aku balik yah ;)

Meeting Efektif Yuk ;)

Dalam kehidupan kantor sehari-hari, seringkali kita dipenuhi dengan jadwal meeting, apakah itu bertema koordinasi, perencanaan, evaluasi, dan sebagainya. Meeting menjadi sarana komunikasi dengan sesama peers, tim lintas fungsi, maupun atasan-bawahan. Menurut pengamatan sekilas, makin tinggi jabatan makin penuh jadwal meeting. Bener gak? ;)

Nah, mengingat meeting sudah menjadi agenda yang memakan waktu dan tenaga dalam aktivitas kerja, ada baiknya kita memiliki pemahaman mengenai bagaimana meeting efektif. Jangan sampai waktu, tenaga, dan biaya kita terbuang sia-sia gara-gara meeting yang dikelola secara buruk. Berikut beberapa tips yang berasal dari pengalaman pribadi, digabung-gabung sama baca sana-sini :

1. Persiapkan agenda meeting & pastikan seluruh undangan mengerti agenda meeting tsb. Kalau perlu, distribusikan bahan meeting jauh-jauh hari sebelum meeting dilaksanakan sehingga ketika meeting berlangsung tinggal ambil keputusan.

2. Seluruh undangan hadir, minimal diwakilkan dengan pengganti yang relevan. Apabila terdapat undangan yang berhalangan, meeting berpotensi terhambat mengingat keputusan tidak bisa diambil atau bahkan dibatalkan karena ketidak ikutsertaan salah satu anggota.

3. Hindari membahas topik lain selain agenda meeting. Sesuai dengan prinsip seven habits, yaitu mulailah dengan tujuan akhir. Peserta diharap fokus dengan agenda masing-masing. Sedikit basa-basi untuk mencairkan suasana diperlukan, tetapi jangan sampai mendominasi meeting. Hindari pula kata-kata negatif yang bisa merusak fokus meeting dan membahas urusan pribadi.

4. Kearifan pimpinan meeting. Faktor pimpinan meeting berperan besar dalam keefektifan meeting. Pemimpin diharap dapat memancing diskusi, menjembatani perbedaan, memecah kebuntuan, dan menyimpulkan benang merah dari solusi yang dihasilkan.

5. Tuntaskan semua agenda di dalam meeting. Jangan ada suara-suara ketidak sepakatan di luar forum kecuali topik yang memang setuju di pending.

6. Hasilkan notulen dan tindak lanjut meeting agar peserta memiliki komitmen menindaklanjuti hasil meeting.

Tetapi di luar tips-tips diatas, budaya keseringan meeting memang seharusnya di kurangi. Ingat, alasan utama kegagalan seorang CEO bukanlah di perencanaan dan penyusunan strategi tetapi di implementasi. Jadi, tingkatkan aksi, kurangi meeting. Kalaupun meeting, efektifkan!

Older Posts »