Feeds:
Posts
Comments

 

Salah satu dasar pemikiran yang dominan dalam perjalanan evolusi konsep desain organisasi adalah prinsip Max Weber tentang organisasi ideal. Konsep Max Weber tersebut kemudian dikenal dengan istilah birokrasi. Birokrasi itu sendiri berasal dari gabungan kata biro (bureau) yang artinya kantor, tempat kerja, office desk dan krasi (kratia/kratos) yang artinya kekuatan atau peraturan.

Sebagai teori manajemen klasik, konsep Max Weber mengenai prinsip organisasi ideal dan birokrasi memberikan pondasi bagi munculnya pemikiran-pemikiran baru perihal desain organisasi. Sayangnya, birokrasi kini identik dengan ketidakefisienan, kaku, dan sikap malas sehingga istilah birokrasi selalu dikonotasikan negatif. Padahal, birokrasi bukan masalah baik atau buruk. Bukan pula positif-negatif. Ia hanyalah sebuah desain organisasi yang melalui perlakuan tertentu bisa berjalan efisien. 

Dalam perspektif Max Weber, terdapat 7 prinsip dasar yang perlu diterapkan dalam membangun organisasi agar dapat mencapai tujuannya. Ketujuh prinsip tersebut adalah (Stephen Robbin):

  1. Pembagian Kerja. Pekerjaan dipecah-pecah sehingga jelas pembagian masing-masing anggota. 
  2. Hirarki kewenangan yang jelas. Struktur organisasi disusun bertingkat dan memastikan jabatan yang lebih rendah berada di bawah supervisi dan kontrol dari yang lebih tinggi. Garis komando dan garis koordinasi diciptakan untuk meperjelas alur pelaporan diantara anggota organisasi.
  3. Formalisasi yang tinggi. Untuk mengatur perilaku anggota organisasi, perlu disusun peraturan dan prosedur formal sebagai sebuah sistem. Poin ini sangat relevan dengan besaran organisasi. Semakin organisasi tumbuh besar, maka perlu ada formalisasi agar semua hal berjalan standar.
  4. Impersonal. Tindakan dan keputusan yang berlaku di dalam organisasi tidak melibatkan perasaan pribadi. Tidak diperbolehkan konflik kepentingan berperan dalam pengambilan keputusan 
  5. Keputusan personalia berdasarkan kemampuan. Keputusan tentang promosi, seleksi, didasarkan atas kualifikasi, keberhasilan atau prestasi. Organisasi harus menciptakan merit sistem berjalan secara sesuai.
  6. Adanya jenjang karir bagi anggota organisasi. Prinsip ini mengasumsikan bahwa keanggotaan organisasi seseorang adalah seterusnya (continuous basis). Dengan jenjang karir diharapkan anggota dapat mengejar karir dan menjaga komitmen terhadap organisasi.
  7. Pemisahan yang jelas kehidupan pribadi dan organisasi. Dalam organisasi ideal, pengambilan keputusan dilakukan semaksimal mugkin berjalan rasional. Artinya, anggota organisasi harus dapat memisahkan kehidupan organisasi dan kehidupan organisasi. 

Bureaupathology

Salah satu kritik terhadap birokrasi adalah munculnya penyakit Biropatologi. Biropatologi dapat diartikan sebagai perilaku pengambil keputusan yang terlalu taat kepada peraturan formal sehingga mengakibatkan birokrasi berjalan lamban, kaku, dan tidak efisien. Prinsip “formalisasi” memberikan perlindungan untuk bersembunyi dibalik peraturan. Ini mungkin PR besar bagi pelaku organisasi bagaimana mendesain organisasi yang ramping, dengan mengecilkan potensi terjadinya efek samping dari birokrasi.

Bulan Februari 2009, Harvard Business Review menampilkan HBR List 2009 yang berisikan snapshot ide-ide dan pemikiran besar yang diprediksi akan berkembang di tahun 2009. Salah satu bahasan yang ditampillkan adalah artikel berjudul “Now’s the time to invest to Africa”. Ya, Afrika. Bukan India, China, Vietnam, Brazil, apalagi Indonesia.

Kalau menengok masa lalu, negara-negara Afrika memang dipandang sebelah mata sebagai negara tujuan berinvestasi. Ada kendala politik, geografis, kemiskinan, infrastruktur, dan sebagainya. Namun kondisi-kondisi tersebut bebeda kini. Ada beberapa alasan, mengapa Afrika kini boleh dilirik sebagai negara primadona baru dalam berinvestasi.

1. Stabilitas. Terdapat perkembangan politik yang positif di negara-negara Afrika, mulai dari Nigeria, Ghana, Uganda, Tanzania, hingga Togo. Kisah-kisah Migeria bahkan telah melunasi hutang luar negerinya, mereformasi sistem keuangan, dan menyusun kebijakan fiskal yang lebih prudent.
2. Return. Berdasarkan hasil studi 2002-2007, rata-rata return on capital dari perusahaan Afrika lebih tinggi (65% hingga 70%) dibandingkan dengan China, Indonesia, India, dan Vietnam. Profit margin berada di level 11%, mengungguli rata-rata perusahaan Asia dan Amerika Selatan.
3. Peluang bisnis baru. Negara Afrika mengalami kemajuan berarti dalam bidang industri, terutama konstruksi, komunikasi, IT Services. Rwanda bahkan membuat ICT sebagai strategi tumbuhnya dengan membangun ICT park di Kigali, ibukotanya.

Tulisan tersebut dapat kita lihat sebagai peringatan, terutama peringatan akan ketatnya persaingan antar negara dalam meraih pasar dan mencuri perhatian investor. Bayangkan, dampaknya bagi Indonesia jika prediksi HBR itu benar. Menghadapi India, Myanmar, Vietnam, China saja sudah sulit bersaing sekarang ketambahan pemain baru lagi yang cukup menjanjikan yaitu negara-negara Afrika.

Sejak beberapa hari kemarin lalu lintas warga negeri fesbukiyah dihebohkan oleh munculnya halaman berbau politik bertema  ”Say no”.  Mulai dari say no to Megawati, SBY, JK, Prabowo, dan lain-lain. Kehebohan tersebut ditunjukkan dengan membludaknya member yang bergabung hingga menyentuh angka 97.000 account Facebook pada salah satu group  ”Say no”. 

Karena sebab-sebab tertentu, rupanya halaman tersebut ditutup. Entah oleh pengelola Facebook, admin group, atau pihak lain yang punya kecanggihan mengutak-atik facebook.

Pro kontra pun berkembang di berbagai macam forum. Yang pro mengatakan, isi halaman tersebut kurang pantas dibaca, bentuk kampanye hitam, pembunuhan karakter, dan sejenisnya. Pihak yang pro berpendapat bahwa munculnya group tersebut sebagai reaksi alamiah dari rakyat yang memandang internet sebagai sarana berdemokrasi secara transparan.

Hmm… Biarlah pro kontra tersebut terus berjalan, memperkaya wacana dan khasanah berdemokrasi diantara kita. Namun yang pasti, kita bisa tarik pelajaran penting dari kejadian ini dalam kaitannya dengan kedewasaan berpendapat. Marilah kita kedepankan dialog secara obyektif, proporsional, kritis, dan konstruktif. Terbuka menerima perbedaan, legawa menghadapi kritikan dan masukan. Jangan sampai ada opini yang menyinggung SARA, mengarah ke pembunuhan karakter, maupun kampanye hitam. Hanya dengan cara demikian kita bisa menjadi bangsa yang dewasa secara politik dan maju dalam peradaban.

Maju terus demokrasi.

Page facebook ini cukup fenomenal. Nama profile-nya “Say no to Megawati”. Dalam satu hari pembuatannya, jumlah member mencapai 25 ribu atau tepatnya per hari ini 13.30 jumlah member nya 25.235 orang. Per menit, ada penambahan member sebanyak kurang lebih 100 account facebook. Berdasarkan komentar di wall, beberapa member mengaku komentar mereka langsung tergusur dari peringkat atas begitu halaman web direfresh. Saking banyaknya komentar di wall.

Menurut situs www.allfacebook.com, jumlah account aktif di Indonesia adalah sekitar 1,5 juta account. Berarti per hari ini jumlah member mencakup hampir 2% dari seluruh account facebook aktif di Indonesia. Kalau halaman ini bisa tembus angka 10%, menurut saya sudah TOP BANGET. Bisa masuk MURI sebagai halaman facebook yang anggotanya paling cepat tumbuh.

Pakar marketing sering menyampaikan, word of mouth marketing adalah media pemasaran terbaik. Fenomena halaman fb yang tidak perlu saya bahas kontennya ini menurut saya juga cerminan bagaimana dahsyatnya  efek word of mouth marketing.

hmm… besok kira-kira sentuh angka berapa ya membernya?

Tuhan 9 senti

Tuhan Sembilan Senti
Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Older Posts »