Feeds:
Posts
Comments

Tentang Malang, 2014

Hari ini saya berada di Malang, kota tempat saya menempuh SMP-SMA. Setelah meninggalkan kota ini untuk melanjutkan ke UGM, praktis memang hanya sekali dua kali saya mengunjungi kota ini. Paling rutin hanya masa lebaran, mengingat keluarga besar dari Ibu saya berada di sini.

Karenanya, saya sebut kunjungan kali ini agak berbeda. Ke Malang untuk menikmati liburan dan berkumpul dengan kawan lama yang dulu akrab di sekolah. Saya sempatkan berkeliling kota melihat apa-apa saja yang baru dengan kota ini. Ada teman yang menawarkan untuk jalan-jalan ke mall, tapi saya enggan. City tour saya rasa lebih baik, karena saya benar-benar ingin merasakan kembali suasana kota ini yang dulu saya anggap tiada duanya.

Beberapa jam pertama kunjungan, ada beberapa kesan yang akan saya share disini: satu, lalu lintas malang sekarang padat! Memang, ini sedang masanya libur panjang. Namun suasana di berbagai sudut jalan benar-benar padat. Saya sebelumnya juga mendengar bahwa kota ini sudah ga se lengang dulu. Namun ga membayangkan bakal se padat ini.

Kemudian, Malang sekarang ramai dengan rumah karaoke. Sepertinya artis-artis yang mulai masuk bisnis karaoke semua sedang memperluas jaringan ke Malang ya, hehehe.

Mari kita beralih membahas moda transportasinya yang baru sekarang saya coba: taksi. Iya lah baru sempat nyoba, dulu masa-masa sekolah andalan nya angkot kemana-mana. Bukan apa-apa, sekarang saya sudah ga terlalu hafal jalur-jalur mikrolet. Kode-kode mikrolet seperti AG, ADL, GA, CKL, MM, AMG memang dulu diluar kepala trayeknya. Kalau sekarang? Bisa-bisa malah nyasar duluan. Hehe.

Saya awalnya sangsi dengan proses pesan taksi di malang. Ternyata, pesan taksi di Malang cukup bisa diandalkan kok. Sekali panggil, ga lama kemudian pak driver datang. Hanya saja baru saat ini saya tahu tarif minimal taksi di Malang: 30.000!! Relatif mahal, namun bisa dimengerti mungkin skala bisnis taksi di Malang tidak besar. Maka, untuk mencapai BEP bisnis taksi ya itulah tarif yang pas. Sayangnya, ketika saya pakai taksi di sini sebenarnya untuk dipakai jarak dekat saja.

Besok pagi saya balik ke Surabaya, kembali meninggalkan kota yang penuh cerita. Masih ada satu malam, kesempatan untuk menjajal titik-titik seru yang belum dikunjungi.

A Song for Mama

You taught me everything
And everything you’ve given me
I always keep it inside
You’re the driving force in my life, yeah

There isn’t anything
Or anyone that I can be
And it just wouldn’t feel right
If I didn’t have you by my side

You were there for me to love and care for me
When skies were grey
Whenever I was down
You were always there to comfort me
And no one else can be what you have been to me
You will always be
You will always be the girl in my life
For all times

Mama, mama, you know I love you
Oh you know I love you
Mama, mama, you’re the queen of my heart
Your love is like tears from the stars
Mama, I just want you to know
Lovin’ you is like food to my soul

You’re always down for me
Have always been around for me
Even when I was bad
You showed me right from my wrong
Yes you did

And you took up for me
When everyone was downin’ me
You always did understand
You gave me strength to go on

There were so many times
Looking back when I was so afraid
And then you come to me
And say to me I can face anything
And no one else can do what you have done for me
You’ll always be
You will always be the girl in my life, ooh oh

Mama, mama, you know I love you
Mama, mama, you’re the queen of my heart
Your love is like tears from the stars
Mama, I just want you to know
Lovin’ you is like food to my soul

Never gonna go a day without you
Fills me up just thinking about you
I’ll never go a day without my mama

Mama, mama, you know I love you
Mama, mama, you’re the queen of my heart
Your love is like tears from the stars
Mama, I just want you to know
Lovin’ you is like food to my soul

Dalam perjalanan karir, kadang kala kita dihadapkan pada posisi stay or go. Artinya, ada masa-masa dimana sebagai profesional kita mendapati situasi yang mendorong kita untuk memikirkan kembali apakah kita sudah berada di jalur yang sesuai aspirasi kita. Sebabnya misal karirnya yang sudah stuck, pekerjaan mulai membosankan, perlu tantangan baru, return yang pas-pasan, dan sebagainya.

Kerisauan semakin meningkat manakala kita mendapatkan tawaran untuk pindah, entah pindah tempat bekerja, pindah divisi, berganti bidang pekerjaan, atau rotasi ke wilayah lain. Pengalaman saya berinteraksi dengan teman-teman di tempat bekerja, kegalauan paling tinggi adalah ketika ada tawaran untuk pindah tempat kerja dalam hal ini pindah ke perusahaan lain. Tawaran tersebut biasanya disertai iming-iming kenaikan gaji dan fasilitas yang berlipat-lipat. Menghadapi tawaran seperti itu, beberapa orang mampu mengambil keputusan dengan baik. Namun beberapa yang lain, masih bertanya-tanya. Pertanyaan umum yang muncul biasanya “apabila saya menerima tawaran untuk pindah kerja ini, adakah jaminan bahwa keadaan lebih baik?”.

Pertanyaan ini wajar muncul. Sebabnya, pindah kerja bukan satu-satunya jawaban untuk memperbaiki karir. Memang benar, pindah kerja bisa menjadi peluang untuk meningkatkan karir, jabatan, maupun gaji dan fasilitas. Namun diibaratkan proses perubahan, pindah kerja mengandung dua kemungkinan: berhasil atau gagal. Mengutip pepatah lama, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Artinya,  belum tentu bekerja di perusahaan lain memberi return lebih baik secara keseluruhan. Rumput yang dikira hijau setelah dicicipi ternyata disebabkan oleh karena pewarna buatan. Gaji berkali lipat yang diberikan ternyata disertai dengan tuntutan target yang selangit, lokasi kerja yang jauh, atasan yang tidak enak, lingkungan kerja yang buruk misalnya menjadi fakta yang baru diketahui seseorang ketika menempati pekerjaan di perusahaan baru itu. Gaji yang tinggi ternyata harus dikompensasi dengan aspek lain yang terkorbankan.

Bagaimana sebenarnya mengambil keputusan stay or go? Sewaktu mengambil mata kuliah Human Capital di studi pasca sarjana saya, ada materi  tentang model perhitungan pengambilan keputusan stay or go. Model tersebut saya temui pada buku Human Capital: What it is and Why People invest it  karya Thomas O. Davenport (TOD). Model tersebut dikembangkan oleh Sam Gould, yang mengembangkan model pengambilan keputusan yang ia sebut the decision to quit melalui perhitungan Net Value of Leaving  dengan cara berikut:

Net Value of Leaving = {Probability really better x (Value New Position – Value Current Position)} – Cost Quitting

Begini cara membacanya. Pilih stay apabila Net value of leaving negatif, pilih go apabila Net value of leaving positif. Menghitungnya bisa diketahui dari :

  • Probability really better : seberapa besar kemungkinan bahwa di tempat kerja akan lebih baik. Angka ini diketahui dari estimasi, setelah melihat faktor-faktor perusahaannya, berapa persen anda yakin bahwa akan kondisi tempat kerja baru benar-benar lebih baik.
  • Value new position : seberapa besar return dari pekerjaan anda yang baru. Hitung secara total return meliputi aspek financial (gaji, tunjangan, bonus), benefit (fasilitas kesehatan, pensiun), recognition (budaya kerja, leadership, lingkungan), maupun opportunity to growth (peluang karir, ruang bertumbuh lebih tinggi, kesempatan belajar).
  • Value current position : seberapa besar faktor-faktor return yang telah disampaikan dalam value new position tadi dibandingkan dengan posisi saat ini.
  • Cost quitting : biaya berpindah, meliputi item-item biaya yang harus anda keluarkan ketika anda pindah bekerja. Pertimbangkan item-item tersebut tidak hanya financial (mengembalikan fasilitas yang telah diterima, potensi besaran pensiun yang hilang, bonus-bonus yang tidak lagi anda nikmati) namun juga non financial (bagaimana anda merusak hubungan dengan atasan, beban moral kepada anak buah, kemungkinan di “cap” sebagai penghianat, dsb). Perhitungkan faktor-faktor yang anda ketahui akan terkorbankan ketika anda pindah kerja.

Menghitungnya memang tidak 100 persen eksak mengingat ada beberapa faktor yang dihitung menggunakan estimasi. Namun setidaknya, model diatas mampu memberi gambaran sebenarnya pekerjaan yang baru akan lebih baik atau tidak. Apa-apa yang perlu dipertimbangkan sebelum pindah kerja. Nah kalau sudah begini, sudah tidak bingung lagi kan mau stay or go dari tempat kerja sekarang?

The best strate…

The best strategies emerge in the day-to-day doing of business rather than in formal planning exercise – Henry Mintzberg

I read it during class presentation

Jangan Menunggu

Betapa blackberry memberi warna tersendiri sebagai media komunikasi masa kini. Bagi saya, blackberry dengan BBM-nya telah mendorong collaborative society, dimana pesan bisa berjalan kemanapun dan orang bisa berbagi informasi dengan cepat serta terhubung kemana-mana. Okey, gadget ini secara teknis memang punya banyak kelemahan: batre, fitur, inovasi, dsb sehingga bisa dinilai “ga ada apa-apanya” jika dibandingkan dengan platform android atau iPhone. Tapi aniwei, harus diakui bagaimanapun sampai sekarang saya cukup banyak terbantu oleh BBM :D
Hari ini sebuah pesan blackberry messenger meluncur dari seorang teman. Cukup memberi motivasi. Berikut isinya:
  • Jangan menunggu senyuman baru mau berbuat baik
  • Jangan menunggu dicintai baru mau mencintai
  • Jangan menunggu kesepian datang baru mau menghargai persahabatan
  • Jangan menunggu mendapat lebih baru mau berbagi
  • Jangan menunggu kegagalan baru ingat nasehat
  • Jangan menunggu kesulitan datang baru mau percaya dengan do’a
  • Jangan menunggu datangnya waktu baru mau melayani
  • Jangan menunggu orang lain terluka baru mau meminta maaf
  • Jangan menunggu ,,,

Karena kita tak akan pernah tau, berapa lama lagi waktu yang masih kita miliki saat ini …..

2010

I can tell that 2010 is my year. To mention a few, I have visited some amazing place, enhancement in career, doing a great social life (having you), and starting to build my own house.

2010 is not yet ended. I have some agenda in my end year. I will attend my close friend’s wedding in Pangandaran, visit Yogya and meet some classmates, and go to Surabaya also.

Yes, I must thank to God for give me a blessing time.

 

Hari ini pagi-pagi dimulai dengan membaca sebuah diskusi dalam sebuah forum dalam sebuah experience project. Topiknya adalah what is worse than betrayal? Saya menduga, seseorang yang memposting sedang mengalaminya.

Membaca forum tersebut, saya jadi terbersit pertanyaan. Apa yang paling menyakitkan di dunia ini? Terbersit pula dua jawaban yang masuk hitungan. 1. Pengkhianatan, 2. Fitnah. Ketika kita mempercayakan sesuatu kepada orang-orang terdekat, yang kita anggap mampu membawa amanat kemudian yang terjadi sebaliknya. Ketika kita berlaku jujur namun terjerat suatu tuduhan yang tidak benar. Sanksi sosial. Jangan lupa memasukkan dua komponen ini dalam doa anda: agar tidak dikhianati dan tidak difitnah.

Jagalah selalu kepercayaan (trust). Dont break it for wathever reason.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.