Bulan Februari 2009, Harvard Business Review menampilkan HBR List 2009 yang berisikan snapshot ide-ide dan pemikiran besar yang diprediksi akan berkembang di tahun 2009. Salah satu bahasan yang ditampillkan adalah artikel berjudul “Now’s the time to invest to Africa”. Ya, Afrika. Bukan India, China, Vietnam, Brazil, apalagi Indonesia.
Kalau menengok masa lalu, negara-negara Afrika memang dipandang sebelah mata sebagai negara tujuan berinvestasi. Ada kendala politik, geografis, kemiskinan, infrastruktur, dan sebagainya. Namun kondisi-kondisi tersebut bebeda kini. Ada beberapa alasan, mengapa Afrika kini boleh dilirik sebagai negara primadona baru dalam berinvestasi.
1. Stabilitas. Terdapat perkembangan politik yang positif di negara-negara Afrika, mulai dari Nigeria, Ghana, Uganda, Tanzania, hingga Togo. Kisah-kisah Migeria bahkan telah melunasi hutang luar negerinya, mereformasi sistem keuangan, dan menyusun kebijakan fiskal yang lebih prudent.
2. Return. Berdasarkan hasil studi 2002-2007, rata-rata return on capital dari perusahaan Afrika lebih tinggi (65% hingga 70%) dibandingkan dengan China, Indonesia, India, dan Vietnam. Profit margin berada di level 11%, mengungguli rata-rata perusahaan Asia dan Amerika Selatan.
3. Peluang bisnis baru. Negara Afrika mengalami kemajuan berarti dalam bidang industri, terutama konstruksi, komunikasi, IT Services. Rwanda bahkan membuat ICT sebagai strategi tumbuhnya dengan membangun ICT park di Kigali, ibukotanya.
Tulisan tersebut dapat kita lihat sebagai peringatan, terutama peringatan akan ketatnya persaingan antar negara dalam meraih pasar dan mencuri perhatian investor. Bayangkan, dampaknya bagi Indonesia jika prediksi HBR itu benar. Menghadapi India, Myanmar, Vietnam, China saja sudah sulit bersaing sekarang ketambahan pemain baru lagi yang cukup menjanjikan yaitu negara-negara Afrika.
