August 9, 2009 by triagung
“What you measure is what you get”
Kalimat diatas adalah slogan umum yang digunakan oleh para pemerhati performance management, yang menandakan betapa pentingnya indikator kinerja bagi suatu organisasi. Organisasi modern, mau tidak mau harus memiliki standar kinerja yang terukur dengan penyusunan indikator-indikator kesuksesan yang spesifik, terukur, realistis, dan time-framed.
Ditambah lagi dalam era ekonomi dimana intangible asset memberikan kontribusi besar dalam daya saing organisasi, maka menjadi semakin penting dilakukan pengukuran terhadap seluruh aset perusahaan beserta kesuksesan implementasi strategi-nya. Tuntutan tersebut berlaku pula untuk HR. Diperlukan indikator untuk mengukur strategi di bidang Human Resources (HR) dan pengaruhnya terhadap kinerja bisnis.
Beberapa rasio untuk HR adalah berikut:
1. Turnover ratio
- First year turnover
- Strategic business unit turnover
2. Hiring ratio
- Cost per hire
- Time to fill vacant position
3. Productivity ratio
- Profit per personnel cost
- Revenue per personnel cost
- Profit per employee
- Revenue per Employee
4. Training Ratio
- Training hour per employee
- Training cost per employee
- Training attendance & distribution
5. Organization ratio
- Organization function ratio
- Span of control ratio
7. Vacant position ratio
8. Engagement idex
9. Variable pay per total compensation
Sementara itu dulu deh. Tulisan ini akan saya update apabila terdapat skala pengukuran baru yang bisa dishare.
Posted in Human Resource Management, Strategy & Management | Tagged balanced scorecard, HR scorecard, KPI HR, productivity ratio HR | Leave a Comment »

Salah satu dasar pemikiran yang dominan dalam perjalanan evolusi konsep desain organisasi adalah prinsip Max Weber tentang organisasi ideal. Konsep Max Weber tersebut kemudian dikenal dengan istilah birokrasi. Birokrasi itu sendiri berasal dari gabungan kata biro (bureau) yang artinya kantor, tempat kerja, office desk dan krasi (kratia/kratos) yang artinya kekuatan atau peraturan.
Sebagai teori manajemen klasik, konsep Max Weber mengenai prinsip organisasi ideal dan birokrasi memberikan pondasi bagi munculnya pemikiran-pemikiran baru perihal desain organisasi. Sayangnya, birokrasi kini identik dengan ketidakefisienan, kaku, dan sikap malas sehingga istilah birokrasi selalu dikonotasikan negatif. Padahal, birokrasi bukan masalah baik atau buruk. Bukan pula positif-negatif. Ia hanyalah sebuah desain organisasi yang melalui perlakuan tertentu bisa berjalan efisien.
Dalam perspektif Max Weber, terdapat 7 prinsip dasar yang perlu diterapkan dalam membangun organisasi agar dapat mencapai tujuannya. Ketujuh prinsip tersebut adalah (Stephen Robbin):
- Pembagian Kerja. Pekerjaan dipecah-pecah sehingga jelas pembagian masing-masing anggota.
- Hirarki kewenangan yang jelas. Struktur organisasi disusun bertingkat dan memastikan jabatan yang lebih rendah berada di bawah supervisi dan kontrol dari yang lebih tinggi. Garis komando dan garis koordinasi diciptakan untuk meperjelas alur pelaporan diantara anggota organisasi.
- Formalisasi yang tinggi. Untuk mengatur perilaku anggota organisasi, perlu disusun peraturan dan prosedur formal sebagai sebuah sistem. Poin ini sangat relevan dengan besaran organisasi. Semakin organisasi tumbuh besar, maka perlu ada formalisasi agar semua hal berjalan standar.
- Impersonal. Tindakan dan keputusan yang berlaku di dalam organisasi tidak melibatkan perasaan pribadi. Tidak diperbolehkan konflik kepentingan berperan dalam pengambilan keputusan
- Keputusan personalia berdasarkan kemampuan. Keputusan tentang promosi, seleksi, didasarkan atas kualifikasi, keberhasilan atau prestasi. Organisasi harus menciptakan merit sistem berjalan secara sesuai.
- Adanya jenjang karir bagi anggota organisasi. Prinsip ini mengasumsikan bahwa keanggotaan organisasi seseorang adalah seterusnya (continuous basis). Dengan jenjang karir diharapkan anggota dapat mengejar karir dan menjaga komitmen terhadap organisasi.
- Pemisahan yang jelas kehidupan pribadi dan organisasi. Dalam organisasi ideal, pengambilan keputusan dilakukan semaksimal mugkin berjalan rasional. Artinya, anggota organisasi harus dapat memisahkan kehidupan organisasi dan kehidupan organisasi.
Bureaupathology
Salah satu kritik terhadap birokrasi adalah munculnya penyakit Biropatologi. Biropatologi dapat diartikan sebagai perilaku pengambil keputusan yang terlalu taat kepada peraturan formal sehingga mengakibatkan birokrasi berjalan lamban, kaku, dan tidak efisien. Prinsip “formalisasi” memberikan perlindungan untuk bersembunyi dibalik peraturan. Ini mungkin PR besar bagi pelaku organisasi bagaimana mendesain organisasi yang ramping, dengan mengecilkan potensi terjadinya efek samping dari birokrasi.
Posted in Human Resource Management, Strategy & Management | Tagged Birokrasi, biropatologi, Bureaupathology, Desain organisasi, max weber, reformasi birokrasi, Sejarah birokrasi, struktur organisasi | 1 Comment »

Bulan Februari 2009, Harvard Business Review menampilkan HBR List 2009 yang berisikan snapshot ide-ide dan pemikiran besar yang diprediksi akan berkembang di tahun 2009. Salah satu bahasan yang ditampillkan adalah artikel berjudul “Now’s the time to invest to Africa”. Ya, Afrika. Bukan India, China, Vietnam, Brazil, apalagi Indonesia.
Kalau menengok masa lalu, negara-negara Afrika memang dipandang sebelah mata sebagai negara tujuan berinvestasi. Ada kendala politik, geografis, kemiskinan, infrastruktur, dan sebagainya. Namun kondisi-kondisi tersebut bebeda kini. Ada beberapa alasan, mengapa Afrika kini boleh dilirik sebagai negara primadona baru dalam berinvestasi.
1. Stabilitas. Terdapat perkembangan politik yang positif di negara-negara Afrika, mulai dari Nigeria, Ghana, Uganda, Tanzania, hingga Togo. Kisah-kisah Migeria bahkan telah melunasi hutang luar negerinya, mereformasi sistem keuangan, dan menyusun kebijakan fiskal yang lebih prudent.
2. Return. Berdasarkan hasil studi 2002-2007, rata-rata return on capital dari perusahaan Afrika lebih tinggi (65% hingga 70%) dibandingkan dengan China, Indonesia, India, dan Vietnam. Profit margin berada di level 11%, mengungguli rata-rata perusahaan Asia dan Amerika Selatan.
3. Peluang bisnis baru. Negara Afrika mengalami kemajuan berarti dalam bidang industri, terutama konstruksi, komunikasi, IT Services. Rwanda bahkan membuat ICT sebagai strategi tumbuhnya dengan membangun ICT park di Kigali, ibukotanya.
Tulisan tersebut dapat kita lihat sebagai peringatan, terutama peringatan akan ketatnya persaingan antar negara dalam meraih pasar dan mencuri perhatian investor. Bayangkan, dampaknya bagi Indonesia jika prediksi HBR itu benar. Menghadapi India, Myanmar, Vietnam, China saja sudah sulit bersaing sekarang ketambahan pemain baru lagi yang cukup menjanjikan yaitu negara-negara Afrika.
Posted in Politics, Social, Strategy & Management | Tagged Ekonomi afrika | Leave a Comment »
April 7, 2009 by triagung
Sejak beberapa hari kemarin lalu lintas warga negeri fesbukiyah dihebohkan oleh munculnya halaman berbau politik bertema ”Say no”. Mulai dari say no to Megawati, SBY, JK, Prabowo, dan lain-lain. Kehebohan tersebut ditunjukkan dengan membludaknya member yang bergabung hingga menyentuh angka 97.000 account Facebook pada salah satu group ”Say no”.
Karena sebab-sebab tertentu, rupanya halaman tersebut ditutup. Entah oleh pengelola Facebook, admin group, atau pihak lain yang punya kecanggihan mengutak-atik facebook.
Pro kontra pun berkembang di berbagai macam forum. Yang pro mengatakan, isi halaman tersebut kurang pantas dibaca, bentuk kampanye hitam, pembunuhan karakter, dan sejenisnya. Pihak yang pro berpendapat bahwa munculnya group tersebut sebagai reaksi alamiah dari rakyat yang memandang internet sebagai sarana berdemokrasi secara transparan.
Hmm… Biarlah pro kontra tersebut terus berjalan, memperkaya wacana dan khasanah berdemokrasi diantara kita. Namun yang pasti, kita bisa tarik pelajaran penting dari kejadian ini dalam kaitannya dengan kedewasaan berpendapat. Marilah kita kedepankan dialog secara obyektif, proporsional, kritis, dan konstruktif. Terbuka menerima perbedaan, legawa menghadapi kritikan dan masukan. Jangan sampai ada opini yang menyinggung SARA, mengarah ke pembunuhan karakter, maupun kampanye hitam. Hanya dengan cara demikian kita bisa menjadi bangsa yang dewasa secara politik dan maju dalam peradaban.
Maju terus demokrasi.
Posted in Politics, Social, Strategy & Management | Tagged Demokrasi, facebook, politik, Say no to Megawati | 1 Comment »
April 4, 2009 by triagung
Page facebook ini cukup fenomenal. Nama profile-nya “Say no to Megawati”. Dalam satu hari pembuatannya, jumlah member mencapai 25 ribu atau tepatnya per hari ini 13.30 jumlah member nya 25.235 orang. Per menit, ada penambahan member sebanyak kurang lebih 100 account facebook. Berdasarkan komentar di wall, beberapa member mengaku komentar mereka langsung tergusur dari peringkat atas begitu halaman web direfresh. Saking banyaknya komentar di wall.
Menurut situs www.allfacebook.com, jumlah account aktif di Indonesia adalah sekitar 1,5 juta account. Berarti per hari ini jumlah member mencakup hampir 2% dari seluruh account facebook aktif di Indonesia. Kalau halaman ini bisa tembus angka 10%, menurut saya sudah TOP BANGET. Bisa masuk MURI sebagai halaman facebook yang anggotanya paling cepat tumbuh.
Pakar marketing sering menyampaikan, word of mouth marketing adalah media pemasaran terbaik. Fenomena halaman fb yang tidak perlu saya bahas kontennya ini menurut saya juga cerminan bagaimana dahsyatnya efek word of mouth marketing.
hmm… besok kira-kira sentuh angka berapa ya membernya?
Posted in Bualan, Politics, Social, Strategy & Management | Tagged facebook, PDIP, Say no to Megawati | 2 Comments »